Dampak pandemi covid-19 terhadap pelaku digital

Diskusi Mei 10, 2020

Jadi masih perlukah membahas tentang pandemi covid-19, sepertinya gausah lagi. Kita sebagai orang awam sepertinya lebih sakti dari dokter maupun cendekiawan. Ketika kita menonton televisi, membuka sosial media semua apapun dikaitkan dengan covid-19, entah itu sebuah berita palsu tentang jumlah korban berjatuhan sampai teori konspirasi. Sayangnya yang angkat bicara bukan dari "pakar" terkait tapi orang dengan pengetahuan minim tentang hal itu.

Apakah nasib indonesia berada ditangan dirinya yang mengaku influencer ?

sudah waktunya kita berhenti mengikuti tentang covid-19 di internet dan televisi, siapapun yang masih mengikuti ya bisa jadi gila karena strees berlebihan. oke stop semua itu, saatnya move on kelain hati *ehem

Latar Belakang

https://coronavirus.jhu.edu/map.html

Pandemi COVID-19 tersebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia dengan jumlah kasus yang terus bertambah dan penyebaran yang semakin luas. Per tanggal 15 April, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sudah mencapai lebih dari 5.000 kasus. Pandemi ini berpotensi menyebabkan kontraksi pada hampir seluruh sektor perekonomian.

Lantas apa pengaruhnya ke pelaku digital brow?

Menurut Inveture Knowledge uang ditulis dalam e-booknya berjudul CONSUMER BEHAFIOUR NEW NORMAL AFTER COVID-19 akan terjadi sebuah consumer megashift saat pandemi dimana akan dikategorikan menjadi 4 tipe

  • Stay @home lifestyle : Gaya hidup baru tinggal dirumah dengan konsep work-life-playing dikarenakan adanya social distancing
  • Back to the bottom piramid : Mengacu ke piramida Maslow, konsumen kini bergeser kebutuhannya dari “puncak piramida” yaitu aktualisasi diri dan esteem ke “dasar piramida” yaitu makan, kesehatan, dan keamanan jiwa-raga.
  • Emphatic Society : Banyaknya korban akibat covid-19 melahirkan pola masyarakat baru yang penuh empati berbelas kasih dan solidaritas sosial.
  • Go Virtual : Dikarenakan menghindari kontak fisik maka otomatis akan beralih ke digital/virtual.

Stay @home lifestyle

Penyebaran virus yang belum terkendali praktis menghentikan mobilitas dan memaksa orang untuk berdiam diri di rumah. Ketika lingkungan mulai terbatas dengan situasi mulai diambang ketidakpastian memaksa kita sebagai manusia kembali kezaman dahulu kala, iya zaman dulu ketika posisi manusia ngentang di dalam sebuah goa.

Dari pola Stay @home lifestyle ini akan terjadi disrupsi besar, dampaknya sebagian industri runtuh sebagai contoh seperti sektor wisata.

Bisa baca disini : https://www.lpem.org/id/briefing-note-april-2020-dampak-pandemi-covid-19-terhadap-pariwisata-indonesia-tantangan-outlook-dan-respon-kebijakan/

Survei dari Kantar, hampir 80% masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di rumah selama masa karantina(ngenolep). Ketika wabah menghantui maka solusi yang dilakukan adalah pemanfaatan teknologi apalagi untuk berbelanja. Dari sini penggunaan aplikasi on-demand seperti gojek dan grab akan melonjak semakin tinggi, yang sebelumnya penggunaanya sebatas wants akan bertransformasi menjadi needs dimana pemesanan akan terjadi berulang ulang.

Ketika akselerasi semakin tinggi pada transformasi digital di masyarakat, maka sebagian besar aspek kebutuhan akan bergantung pada yang onlen-onlen itu. Dari sini brand akan meningkatkan jangkauan dari offline-online dan memperbaiki serta meningkatkan customer journey ketika membeli produk.

Brand-brand pun mulai menerapkan omni-channel dengan berfokus pada customer journey yang menyeluruh. Channel seperti mobile, web, smartwatch, ERP, AI serta komponen online dan offline dalam bisnis akan terintegrasi secara menyeluruh. Dengan pendekatan omni channel, maka pelanggan akan mendapatkan kepuasan belanja secara maksimal.

Kembalinya TV, sistem berlangganan dan pekerjaan di remote kan

https://tenor.com/view/rcti-rcti29-terima-kasih-terima-kasih-indonesia-televisi-gif-12254037

Ketika hoax dan berita yang membombardir tentang covid-19 setiap hari entah itu dari sosial media maupun dari berita layar televisi, maka orang-orang akan beralih mencari hiburan untuk mengurangi kesetressan mereka. Dari sini pelaku sistem streaming onlen seperti netflix, disney plus akan menjadi solusi apalagi diberlakukan semacam diskon 🤔(gaberlaku di indo btw, kan ada indoxxi).

Disini TV juga menemukan momentum mereka , di berbagai negara konsumsi menonton TV mengalami peningkatan. Survei dari Nielsen, bahkan frekuensi menonton TV hampir menyeimbangi penggunaan Smartphone.

Kerja remote, dari kejadian ini maka beberapa pekerjaan akan diremote kan, itupun kalau kalian masih belum di phk 😂. Kerja remote, dimana pekerjaan dilakukan di rumah yang tanpa disadari menjadi kenormalan baru, maka batas waktu antara bekerja (working), mengurus keluarga (living), dan menikmati leisure time (playing).

Keseimbangan working-living-playing yang lebih baik ini pada akhirnya akan meningkatkan kualitas dan kebahagiaan hidup 🎉  .

Tapi hal ini nggak berlaku juga untuk temen-temen yang saat ini di garda depan, Mari kita doakan yang terbaik buat mereka di garda terdepan ✨ .

Back to the bottom piramid

Konsumen kini bergeser kebutuhannya dari “puncak piramida” yaitu aktualisasi diri dan esteem ke “dasar piramida” yaitu makan, kesehatan, dan keamanan jiwa-raga.

Contact-free economy akan menciptakan model baru contact-free business dengan peluang begitu luas karena pasarnya masih blue ocean. Beberapa bisnis yang akan booming antara lain: jasa antaran tanpa kontak, konser musik virtual, MICE (meeting, incentive, conference, exhibition) virtual, startup bidang virtual reality dan augmented reality, begitu juga startup bidang robot & atomasi.

Maka juga akan terbentuk gaya hidup baru yaitu Contact-Free Lifestyle dimana

  • Belanja dilakukan secara online
  • Menghindari kerumunan di konser, event olahraga updaya menghindari kontak fisik
  • Pabrik akan menerapkan otomasi, upaya mengurangi kontak fisik
  • Empati akan semakin luntur di perkotaan besar :(

Semenjak di endorse oleh Pakde Jokowi, kedepannya tren minum jamu akan terjadi di perkotaan besar, dalam artikel berjudul Indonesians Turn to Traditional Remedies to Fend Off Covid-19, Channel News Asia (CNA) menuturkan penjualan rempah-rempah terus melonjak terutama setelah Jokowi mengumumkan kasus corona pertama di Indonesia. Yok buat toko onlen jamu 🤔

Makanan Halal sebagai solusi, salah satu  hikmah dari wabah ini adalah soal betapa pentingnya mengonsumsi makanan halal dan higienis. Kita semakin menyadari makanan yang tidak halal atau pemrosesannya tidak higienis berpotensi besar mengakibatkan penyakit seperti yang terjadi sekarang. Bencana ini mengingatkan mengenai pentingnya makanan dalam penyiapan dan pengolahan makanan yang layak dikonsumsi.

Emphatic Society

Hikmahnya, COVID-19 telah menciptakan solidaritas dan kesetiakawanan sosial. COVID-19 melahirkan rasa senasib dan sepenanggungan yang melahirkan tujuan bersama untuk melawannya. Nggak heran jika rasa empati dan kepedulian berbagai pihak terhadap nasib sesama tumbuh luas di tanah air dan di seluruh dunia.

Berbagai gerakan kepedulian dan aksi solidaritas dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat untuk mengurangi penderitaan orang-orang yang terdampak.

Penggunaan platform seperti kitabisa.com akan memiliki impact yang sangat besar saat ini dengan memanfaatkan influenser semacam selebgram(akhirnya kalian beneran kerja) untuk melakukan penggalangan dana.

GO Virtual

https://tenor.com/view/kawbeem-vr-chat-kawaii-looking-around-gif-17067119

Dikarenakan menghindari kontak fisik maka otomatis akan beralih ke digital/virtual, iya apa apa semua pake yang onlen onlen itu. Untuk permulaan kalian bisa liat orang gabut ini :

Kedepannya hal berbau Virtual semacam AR dan VR akan sangat dibutuhkan untuk posisi seperti pandemi saati ini guna menghindari kontak fisik.

Aktivitas oleh raga seperti nge-gym, senam, hingga yoga/meditasi kini dilakukan dengan platform aplikasi virtual dimana instruktur dan masing-masing peserta melakukan aktivitasnya di rumah masing-masing. Untuk games, social gaming selama ini sudah lebih dulu berkembang namun dengan adanya wabah ini, social gaming akan makin melejit pertumbuhannya.

Di masa karantina orang mudah mengalami kebosanan. Terlebih hidup menjadi tidak dinamis dan monoton. Solusinya adalah aktivitas VirSocial: bersosialisasi dan berkomunitas secara virtual. Bisnis-bisnis baru akan lahir dari tren ini seperti: VirtualSocial sport, VirtualSocial games, VirtualSocial entertainment, VirtualSocial cooking.

Kesimpulan

https://tenor.com/view/yes-yes-yes-yes-finally-gotcha-excited-gif-14950550

Dengan adanya wabah ini terjadi disrupsi habis-habisan dimana terdapat phk di berbagai kalangan, terjadi transormasi besar-besaran di semua aspek ekonomi mulai dari transformasi pekerjaan hingga gaya hidup. Ketika lingkungan mulai terbatas dengan situasi mulai diambang ketidakpastian memaksa kita sebagai manusia kembali kezaman dahulu, bedanya disini kita dapat memanfaatkan teknologi sebagai solusinya untuk memenuhi kebutuhan.

Adanya kecepatan perkembangan teknologi, kita dapat memanfaatkannya mulai dari berbelanja, menikmati entertain hingga bekerja secara virtual.

Dari peristiwa ini kita belajar harus melek literasi dibalik berita yang membombardir dan hoax, dengan mencari informasi dari para ahli yang lebih paham dan lebih kompeten, ya memang cendekiawan sama buzzer banyakan buzzer di sosmednya wkakwk . Informasi juga dapat diperoleh
dengan mengakses situs-situs resmi dan kredibel, sehingga kita dapat membedakan antara hoaks dan fakta serja jangan lupa jaga kebersihan.

OKE SEKIAN, semoga tulisan ini ada faedahnya nggak abal abal seperti sebelumnya, sehat ya teman teman.

Oh ya aku punya hadiah buat kalian, bisa buka di :

browser > klik kanan > inspect > console

Semoga beruntung 😁

Artikel ini merupakan rangkuman dari sini

Flatburger

Imigran vrindavan

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.